Selasa, 02 Februari 2010

caesar oh caesar

istilah caesar dalam proses mengeluarkan bayi dari rahim ibunya dengan cara penyayatan perut konon diambil dari nama Julius Caesar, seorang kaisar romawi yang merupakan bayi pertama yang diambil secara penyayatan pada perut ibunya.
jaman sekarang proses caesar ini bukanlah hal yang sulit dilakukan karena dunia kedokteran yang kian lama kian modern terus menemukan cara terefektif untuk proses ini. saya memperkirakan cara pembiusan adalah cara tervital yang harus ada bila hendak dilakukan tindakan operasi. karena pasien dalam hal ini sang ibu tidak akan menderita ketika proses penyayatan dan hal-hal yang mengiringinya kemudian dilakukan. pembiusan akan mematirasakan tubuh secara sementara pada saat operasi dilakukan. lalu apa yang terjadi pada masa lalu ketika obat bius belum ditemukan? bagaimana rasanya disayat, dijahit dan diobok-obok tanpa obat bius? hiiiiiyyyy ......
(menutup mata dengan tangan dan bergidik, ngerrrrrriiiiiii)seraya bersyukur hidup di jaman modern.

20 hari yang lalu, saya mengalami operasi caesar ini. sebuah tindakan yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. bagaimana bisa? tanggal 4 januari 2010 ketika saya check up ke dokter kandungan, posisi bayi telah siap dilahirkan normal. jalan keluarnya pun lancar tak terhalang apapun. saya merasa bersyukur dengan segala kemudahan yang diberikan olehNya. saya membayangkan kelahiran normal akan terjadi beberapa hari lagi seperti kelahiran pertama anak saya.
namun tanggal 13 januari, ketika saya check up kembali betapa terkejutnya saya karena bayi tiba-tiba melintang di perut, sedangkan hari kelahiran sudah didepan mata. ketika mulas terus menerus, akhirnya tindakan caesar pun dilakukan, dengan alasan untuk menyelamatkan ibu dan bayi.

saya pasrah walaupun rasa cemas terus menghantui, saya nggak pernah ingin dicaesar, dan tak pernah membayangkannya. namun akhirnya saya percayakan pada dokter untuk semuanya. saya sendiri ga bisa apa-apa. keluarga menanti dengan wajah cemasnya ketika menyaksikan saya dibawa ke ruang operasi. Ya Allah...saya pasrah aja deh...bener....

saya disuntik di punggung, beberapa detik kemudian, kaki tiba-tiba tak bisa digerakkan. kakiku sudah mati rasa, dan pastinya perutku juga. tapi saya tidak pingsan seperti dalam film-film, saya bisa mendengar, melihat, dan menjawab pertanyaan. rupanya dokter mengajak saya bicara agar tidak terfokus pada tindakan itu. beberapa detik kemudian, saya mendengar suara bayi menangis. Ya Allah...itu bayi saya, dia sudah keluar dari rahim...dan saya tidak merasakan apa-apa...subhanallah...betapa bergunanya ilmu pengetahun dan teknologi.

ceritanya perut udah dijahit, dan saya dimasukkan ke ruang perawatan. disanalah saya beristirahat pasca operasi. ketika keluarga berkunjung saya masih bisa bercerita dan tertawa-tawa. namun setelah obat bius habis perlahan-lahan, saya mulai merasakan sakit di bagian bawah, sakit sedikit...kemudian sedang...kemudian OW...OWWWWW..AAAAAAWWWWWWWW....sakit berat...sakiiiiiit sekali.

caesar oh...caesar...

Minggu, 03 Januari 2010

JULIUS SITANGGANG

Kalo ditanya siapa sekarang penyanyi favoritku… aku benar-benar ga bisa jawab. Mungkin mendiang Michael Jackson dan Sakh Rukh Khan dari India itu lho *nehi-nehi*(walau dia lebih tenar sebagai aktor papan atas, tapi karena bisa nyanyi juga, ya…gpp lah dinisbatkan sebagai penyanyi). Cuma masalahnya, aku benar-benar ga ngerti bahasa Hindi.

Tapi bila ditanya tempo dulu, aku benar-benar ngefans sama Julius Sitanggang, penyanyi cilik yang top BE GE TE. Teringat masa lalu, kalau ga salah aku baru kelas 6SD, lagu-lagunya mendayu-dayu, mellow, dan sebagian besar bertema balada. Tapi suaranya yang jernih, nyaring, bulat dan penuh penghayatan membuat lagunya enak didengar dan langsung masuk ke hati. Sampai-sampai mata berkaca-kaca bahkan sampai menangis (sembunyi-sembunyi) saking meresapnya lagu itu ke lubuk sanubari. Bahasa ringannya, kasihan yang dijadiin objek lagu, terlalu menderita. Seperti salah satu lagu yang judulnya lupa begitupun lirik keseluruhan, digambarkan seorang pengemis wanita tua (atau muda ya) yang meminta-minta untuk anaknya yang seharian belum dapat makan, namun kemudian si anak justru menangis sesunggukan mendapati ibunya telah meninggal dalam keadaan lapar pula. Kasihan bener, ya…

Atau tentang si Bapak tua renta yang mencari anaknya hingga ke kota, setiap tempat dari yang sederhana hingga mewah telah ia cari, namun tak kunjung bertemu. Terlunta-lunta di kota metropolitan, anak tak berjumpa, sawah ladang sudah tak punya, ingin pulang tak ada tempat, hingga akhirnya ia harus menjadi pengemis di kota itu. Walau sebenarnya ia tak akan berjumpa dengan si anak, karena anak yang dicari telah meninggal dunia.

Banyak lagi tema sedih dan balada ciri khas Julius, walau ada juga yang cerianya seperti lagu Gembala dan Danau Toba.

Apapun tema yang ia nyanyikan, rasanya tetap enak didengar.
Kaset pertama (dan terakhir) karena keterbatasan biaya waktu itu…adalah album BALADA ANAK NELAYAN, terpampang fotonya sedang duduk di sampan kecil sambil menatap laut. Ihhh…gemes deh…wajahnya imut-imut gitu…(tapi sekarang kasetnya sudah tak ada, padahal dia property yang sangat berharga lho).

Sebagai kaset favorit, kaset itu merajai tape kasetnya ortu. Dari pulang sekolah sampai ketiduran di malam hari kaset itu terus bernyanyi, kalo konser mungkin si artis sudah dower ya…

Hingga saat ini lagu Balada Anak Nelayan dan Gembala masih hafal di luar kepala, tapi lagu lain di album itu sudah lupa.


BALADA ANAK NELAYAN

Di ruang kecil yang berdinding bambu
Kududuk sendiri bertemankan sepi
Seharian kini telah kulewati
Dengan bubu dan kail di tanganku

Ku pandang ombak bergulung di pantai
Dan tiang sampan yang timbul tenggelam
Burung-burung camar yang tak bosan beterbangan
Menemani para nelayan.

Reff: Anak-anak nelayan, sambil menjinjing keranjang
Menyambut kedatangan saudaranya,
Dengan wajah yang ceria

Mentari kini telah hampir tenggelam
Ombak di laut pun tetap bergelombang
Kudengar nyanyian anak nelayan
Mereka yang selalu bergembira

Back to Reff


Lagu favorit di album yang lain,

TABAHLAH MAMA

Janganlah menangis mamaku
Janganlah kau bermuran selalu
Walaupun putus sekolahku
Namun ku tetaplah anakmu

Kutahu pedih di hatimu
Kutahu beban deritamu
Tiada yang dapat menolongmu
Melanjutkan cita-citaku

Walaupun papa tiada di sisi kita
Tak perlu bersedih
Tak perlu duka
Walau derita bertindih datang melanda
Bersabarlah mama, berdoalaaaaah

Tabahlah mama,
Teguhkan hatimu
Hilangkan duka dalam dada mamaku
Tabahlah mama
Teguhkan hatimu
Derita kan berakhir jua mamaku

Bukanlah rumah, bukanlah harta
Hanya doamu yang kupinta oh mama
Tiada duka sepanjang masa
Bahagia pasti milik kita oh mama

Oh mama…ooho mama…oho mama mama mama oh sayangku
Ooh mama…ooho mama… oho mama mama mama…ooooooooooooh sayangku…
Ooh mamaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa…..


Ternyata, anakku yang lima tahun juga suka sama Julius, ga disangka dalam perjalanan dia terus nyanyi satu lagu Julius, walau cuma bagian reffnya.

MAMA & PAPA

Indahnya cinta di hatimu
Lebih indah dari sinar rembulan
Dan sejuk mesra sinari hidupku
Oh mamaku oh papaku

Putihnya kasih di dadamu
Lebih putih dari sutra dan salju
Dan lembut manja hangatkan hatiku
Oh mamaku oh papaku

Reff : kepadamu mama papa, segala cintaku
Kepadamu mama papa, segala terima kasihku
Kepadamu mama papa, segala baktiku
Bahagialah kau mamaku
Bahagialah kau papaku

Putihnya kasih di dadamu
Lebih putih dari sutra dan salju
Dan lembut manja hangatkan hatiku
Oh mamaku oh papaku

Back to reff…

Masa lalu memang indah tuk dikenang.

Jumat, 01 Januari 2010

Kamis, 31 Desember 2009

SELAMAT JALAN, SELAMAT DATANG

Hari ini 1 Januari 2010.

Setiap orang pasti antusias pada tanggal ini (tanpa memperhatikan tahunnya). Begitu juga dengan aku tentunya. Selalu ada semangat dan tekad tuk jadi lebih baik di tahun mendatang, di mulai dari tanggal ini. Dari tahun ke tahun selalu sama, semangat yang membara, dan tekad yang besar untuk memperbaiki hari. Setiap malam pergantian tahun, selalu ada doa yang menyertai agar diri ini bisa lebih berguna dan bermanfaat di tahun depan. Punya rezeki melimpah, cita-cita tercapai, lebih sejahtera, lebih sehat, lebih bahagia, karier sukses, dll.

Aku termenung seorang diri di kamar tidurku yang kecil (kaya puisi aze). Merenungi apa yang dilewati dan terlewati di tahun yang baru saja berjalan ini. Dan mengingat hal-hal yang belum selesai di tahun ini. Aku sadar (di renungan tahun kemarin juga sadar) sebenarnya setiap tahun selalu saja bersambung. Ketercapaianku di tahun 2009 tak akan terjadi bila tak ada pengorbanan di tahun 2008. Dan hal-hal apa saja yang aku jalani di tahun 2009 sangat berdampak pada masa depanku nanti di tahun 2010 ini. Continuitas akan terus berlangsung selama kita hidup. Hanya saja, benar-benar mengoptimalkan waktu dan perencanaan yang matang akan melesatkan kita menuju tujuan.

Di tahun 2009, bukan saja kegigihan dan kemenangan yang aku raih. Tapi juga kegagalan dan kehilangan. Aku percaya ini semua terjadi karena Allah menghendaki. Ada rahasia besar mengapa aku tidak berhasil mencapai salah satu target, dan ada ketetapan Illahi ketika aku kehilangan. Dia ingin menguji ketabahan dan ketawakalanku. Hingga kini aku memang masih berdiri tegak di muka bumi, walau sebenarnya aku takut…takut tidak mampu melewati ujian yang telah ditetapkan-Nya padaku.

Apakah aku sanggup melewati hari dengan hancurnya rumah dan lingkungan akibat gempa seperti di Padang, Pangalengan, Bengkulu, dan tempat lainnya yang tertimpa gempa dahsyat? Ataukah aku sanggup kehilangan orang-orang yang aku cintai, apalagi dia berperan sebagai tulang punggung keluarga seperti orang-orang itu? Atau akankah aku sanggup kehilangan salah satu anggota tubuhku atau panca inderaku demi nyawa yang aku punya seperti mereka yang kini hidup secara cacat dengan ikhlas? Atau yang tertimpa justru orang yang sangat aku cintai, akankah aku sanggup menghadapinya? Aku sungguh takut…takut kehilangan…takut tak mampu menanggung segala derita… karena itulah aku salut pada orang-orang yang bangkit pasca bencana. Bagaimanapun keadaan mereka, mereka sanggup bertahan.

Aku teringat pada seorang nenek di Padang yang turut menyumbang sejumlah uang bagi bencana gempa. Uang itu tak seberapa hanya Rp20.000,00 saja. Tapi aku yakin uang itu sangat berharga bagi sang nenek, karena diapun sebagai korban bencana. Dia juga membutuhkan uang itu untuk kebutuhannya sehari-hari. Apalagi dia telah tua dan renta. Tapi dengan suara yang tabah, nenek itu mengatakan ingin menyumbang demi kebangkitan tanahnya dan saudara-saudaranya, di kala orang dari luar Padang menyumbang diapun sebagai orang Padang ingin turut membantu. Sungguh mulia hatinya, uangnya itu memang tak seberapa, tapi nilai yang terkandung di dalamnya melebihi uang satu milyar yang tersimpan dalam deposito atau sebagai investasi bisnis. Nenek itu telah memberiku inspirasi dan keharuan teramat dalam, bahwa hidupku setiap tahun pasti sangat berharga. Dan aku tak boleh menyia-nyiakan ilmu, tenaga, dan waktu yang terus berjalan.

Di tahun 2009 ini, aku kehilangan dua orang manusia yang dekat denganku dan sangat aku sayangi. Mama mertua dan kakek. Kakek kandung yang turut mengasuhku ketika aku kecil, ketika orang tua sibuk bekerja, kakek dengan ikhlas menerimaku dan mengasuhku dengan kasih sayangnya yang tulus. Hingga aku dewasa, aku tahu dia masih menyayangiku seperti dulu. Hatinya kini tersimpan dalam dadaku, setiap senyum dan kata-katanya selalu terngiang dalam pikiranku. Aku tahu kakekku orang yang mulia, dia tidak menyisakan harta pada kami, tapi menyisakan hati mulia yang kan selalu kekal sepanjang masa.

Kedua manusia mulia itu meninggal dalam keadaan khusnul khotimah (insya Allah). Mereka tak sempat menyongsong hari baru di tahun 2010. Tapi aku yakin, mereka telah tenang di alam sana, di sisi Allah SWT.

Aku, masih hidup, dan masih muda. Aku masih diberi kepercayaan menyongsong hari di tahun 2010. Allah mencintaiku. Dalam kehilangan ada pemberian. Ketetapannya pada takdir tak akan pernah melesat. Kini aku sedang hamil tua. Sebentar lagi di tahun 2010 ini aku akan melahirkan bayiku yang kedua (insyaAllah). Semoga semuanya berjalan lancar dan mudah.
Selayaknya aku memang harus bahagia, menyongsong tahun yang penuh tanda tanya. Aku harus terus melangkah memperbaiki yang salah di belakang dan terus menapakinya hingga lebih baik. Aku pun ingin di tahun ini, hari-hariku menjadi lebih berwarna, lebih indah, lebih nyaman, lebih sejahtera. Diriku semoga dapat menjadi manusia yang lebih berguna dan bermanfaat. Begitupun dengan orang-orang yang berada di sekitarku, saudara yang dekat dan jauh dan orang-orang yang aku kenal atau tak aku kenal.

Selamat jalan 2009, selamat jalan masa lalu. Akan kami songsong masa depan yang lebih baik di tahun ini dan tahun-tahun mendatang, insyaAllah.

Amin.

Rabu, 30 Desember 2009

Kalau Sudah Rejeki, Tidak Akan Kemana...

Waktu itu sore-sore.
Ketika sedang belanja di mall perut rasanya lapar sekali, ternyata perut Ihsan (anak lelakiku) pun begitu. Biasanya dia paling cuek yang namanya makan, tapi sekarang dia memintanya.
Aku seneng banget, dong. Akhirnya ihsan mau makan juga. Sebagai anak empat tahun yang harus mendapatkan gizi melimpah ihsan memang terlihat lebih ramping. Karena ya itu tadi, nafsu makannya harus dikatrol.
singkat cerita makanan udah tersedia di depan kita. menuku cuma nasi goreng seafood aja plus teh botol dingin. menu Ihsan (lupa lagi nama menunya) terdiri dari telur dadar yang ditaburi mayones, sosis goreng, kentang goreng plus teh botol dingin. Dia makan dengan lahap, namun aku lebih lahap lagi. Setelah beberapa menit, nasi goreng ku telah kosong berpindah tempat. sambil menikmati manisnya teh botol, kuperhatikan cara makan Ihsan. Dia masih makan hanya frekuensi mengunyahnya lama sekali. Telur dadarnya masih ada setengah, sosisnya tinggal satu, dan kentang gorengnya mungkin telah dimakan setengahnya. Teh botolnya pun telah diminum setengahnya. Aku nasihatkan dia untuk menghabiskan semua, jawabannya sungguh di luar dugaan. Ma, Ihsan pengen pipis, katanya.
Aku bingung, kami hanya berdua. Bila aku mengantarnya ke toilet, pramusaji mungkin akan menyangka kami telah selesai makan. Dan membereskan mejanya. Namun bila tidak diantar, tak mungkin anak empat tahun dapat ke toilet sendiri di mall besar ini apalagi bila bersuci. Pasti bingung dia.
Pramusaji yang biasanya hilir mudik menyerahkan makanan kepada pelanggan kali ini tidak ada. Akhirnya aku putuskan menemani Ihsan ke toilet. Sebelumnya aku bertanya, apakah dia sudah kenyang? Jawabannya belum, dia masih ingin menikmati makanannya. Dengan pasrah aku tinggalkan meja itu.
Benarlah dugaanku.
Meja kami telah bersih ketika kami tiba dari toilet. Kasihan Ihsan, dia heran melihat mejanya kosong. Dia mencari-cari makanannya sambil terus bertanya, kemana makanan Ihsan, teh botolnya mannnnnnaaa?
Dalam kebingungan itu, untunglah melintas seorang pramusaji. Langsung aku ceritakan apa yang terjadi. Pramusaji itu terlihat kaget dan dia melihat Ihsan. Anak lelaki itu sedang melihat ke kiri dan ke kanan, lalu menatapku. Ma, Ihsan masih lapar, katanya polos.
Pramusaji yang terlihat kaget itu mengakui bahwa dialah yang memberesi meja, dan dia meminta maaf pada kami karena tidak tahu bahwa kami belum selesai. Mungkin karena kasihan melihat balita yang masih mencari makanannya dia akhirnya menjamin akan mengganti makanan itu. Aku setuju.
Selang beberapa lama, akhirnya menu Ihsan datang lagi. Telur dadar utuh, sosis utuh dan kentang goreng panas yang masih utuh. Lengkap dengan mayones dan sambal tomatnya, plus teh botol dingin penuh.
Rejeki anak, begitulah fikirku.
Pramusaji itu mempersilahkan kami menikmati menunya sambil meminta maaf. Ya...tentu saja aku maafkan dia, karena kami tidak dirugikan bila ada penggantian ini. Ihsan pun makan lagi dengan lahap. Aku tunggu dia hingga kenyang.

DIA PEMBAWA SEMANGAT

DIA PEMBAWA SEMANGAT

Hari ini usia kandunganku telah memasuki 9 bulan. Sebagai seorang wanita yang baru pertama kali mengandung tentulah saat ini perasaanku sangat bercampur aduk. Antara bahagia dan takut semuanya menjadi satu. Aku akan menjadi ibu, begitulah pikirku. Sebentar lagi, jabang bayi yang bersemayam dalam rahimku akan dapat aku peluk. Aku bisa membelainya, aku bisa memandikannya, dan memberinya pakaian-pakaian kecil yang telah aku persiapkan. Kaos kaki, sepatu, topi, baju, celana dan lain-lain perlengkapan telah membuat aku semakin rindu akan kehadirannya. Bahkan akupun telah siap menyusuinya, selama 6 bulan penuh. Aku ingin memberinya yang terbaik.
Tapi aku pun takut pada proses persalinan nanti. Banyak cerita menakutkan mengenai proses itu, akan rasa sakitnya, akan darah yang banyak keluar, akan putusnya beberapa pembuluh darah, bahkan hingga pembuluh mata, ada juga yang terkena stroke, bahkan kematian. Aku sungguh takut menghadapi saat-saat itu. Bila dapat dikatakan aku kini mengalami depresi kecil. Tapi aku tak mau anak dalam rahimku mengalami depresi pula. Hingga aku berpura-pura tidak terjadi apa-apa dalam hatiku. Aku bernyanyi dan berjalan-jalan, memilih makanan yang enak dan buah-buahan yang segar, berbelanja pakaian hamil atau pakaian kecil, bahkan mainannya pun telah aku persiapkan. Begitu banyak yang aku beli. Ya…itu semua untuk menghilangkan rasa stressku. Aku tak ingin terus mengingat proses menakutkan yang akan aku jalani nanti.
Terbersit dalam fikiran, aku akan mengambil tindakan operasi saja. Biarlah dokter yang bekerja, dan memberikan kepercayaan penuh pada mereka. Toh banyak pasien yang menjalani itu dan berhasil namun kabarnya pasca operasi akan jauh lebih menyakitkan daripada operasinya itu sendiri dan akan membutuhkan waktu yang sangat lama.
Aku bingung, normal atau operasi?
Tendangan bayiku tidak sesering dulu ketika usianya 7 bulan, namun kini tendangannya semakin kuat. Aku bisa memastikan bahwa bayiku adalah bayi yang kuat dan perkasa. Dia terus mendorongku untuk mengelusnya lewat dinding perut. Aku bisa merasakan kakinya, tangannya bahkan gerakan tarikannya. Dia memang sangat kuat. Haruskan aku sebagai ibunya memiliki rasa yang lemah ini? Mampukah aku memberi yang terbaik dikala aku sendiri dalam keadaan lemah hati?
Tiba-tiba hatiku bangkit, aku merasa harga diriku sebagai ibu teruji. Dokter telah memastikan kondisi bayiku dalam keadaan sehat, begitupun dengan aku. Posisinya telah siap untuk dilahirkan, tak ada penghalang apapun. Akupun tak memiliki penyakit berat yang akan menimbulkan komplikasi. Segalanya dalam kondisi bagus. Haruskah aku menyerah sebelum perang? Jikalau aku mesti kalah nantinya, aku kalah di medan perang dan hal itu merupakan kehormatan. Tapi aku harus memiliki tekad menang, aku memiliki hak dan kewajiban. Aku berhak memeluk anakku dan aku berkewajiban merawat dengan sebaik-baiknya. Aku harus menang.
Aku akan mengambil jalan normal dalam proses persalinan nanti. Dan aku mesti mempersiapkannya.
Banyak yang harus aku persiapkan. Pertama adalah mentalku, aku harus dalam keadaan sehat wal afiat dan santai, lepas dari depresi kecil bahkan stress. Aku pun harus kembali memikirkan asupan giziku. Selama stress mendera, yang aku makan hanyalah cemilan dan gorengan. Sangat jauh dari gizi yang mesti dimiliki ibu hamil. Kini aku harus menuliskan menu-menu sehat yang harus aku konsumsi, dimulai dari sayur, buah, protein dan karbohidratnya. Apa ya? Akan aku konsultasikan pada ibu. Aku pun harus mempersiapkan materi yang akan aku ambil untuk mengajak bicara janinku. Aku ingin dia mengerti perasaanku, dan aku harap kelak dia pun akan menjadikan aku teman bicara tuk menyelesaikan permasalahannya. Aku ingin ikatan emosi kami menjadi lebih dekat, sehingga anakku tahu ada manusia di luar dirinya yang menyayangi dan ada untuknya. Aku tak berharap dia berada dalam dunianya sendiri tanpa peduli pada orang lain. Aku pun harus mengambil kitab suci, karena di kitab itu tertuang pedoman dalam membesarkan anak, bagaimana seharusnya orang tua dan hubungan antara kami. Aku sungguh ingin menjadi orang tua yang berharga di hadapan anak.
O ya, untuk menghindari stroke aku pun harus mengupayakan tekanan darahku normal dan tidak tinggi. O…apa yang akan terjadi jika aku mengalami darah tinggi di saat proses persalinan nanti? Aku harus sehat sesehat-sehatnya. Karena itu segera saja kususun jadwal latihan senam hamil dan berjalan-jalan agar badanku bugar dan menjaga makanan agar tidak terlewat asin. Katanya makanan yang banyak mengandung asin (garam) mudah menimbulkan hipertensi. Vuih… banyak juga program yang mesti aku terapkan.
Suami kini masih bekerja di luar kota, dia belum dapat pulang. Katanya dia bisa pulang beberapa hari sebelum proses kelahiran si jabang bayi. Aku adalah wanita yang manja dan ingin diperhatikan. Akupun mudah merajuk pada suami yang kelewat sabar menghadapiku. Tapi kini rasioku lebih berjalan disbanding hati dan emosiku. Aku mesti berfikir jernih dan menghadapi segala peristiwa dengan pikiran yang lebih positif. Aku rela dan pasrah bahwa suami memang harus bekerja di luar kota. Aku akan sabar menunggunya. Karena kini itulah yang mesti aku lakukan. Dia bekerja demi kami, demi investasi keluarganya. Aku bangga melihat keuletannya mencari nafkah, sehingga kami tidak kekurangan.
Ternyata anakku, walaupun masih dalam kandungan, telah membuatku lebih dewasa dan berfikir matang.
Terima kasih, sayang. Mama memang membutuhkan dukungan.